Berhenti Menatap Layar, Mulai Menatap Anak

Sudah 20 tahun saya membangun rumah tangga, dan sekitar enam tahun terakhir saya menetap di rumah sebagai stay-at-home dad. Di sela-sela tumpukan cucian yang tak pernah habis dan jadwal jemputan sekolah yang ketat, ada satu musuh yang diam-diam selalu mengintai: Hidup Autopilot. Hari-hari saya sering terasa seperti kabut tipis; saya ada secara fisik, tapi hanyalah bayang-bayang yang melintas.

Sering kali saya mendapati diri saya sudah berada di depan lemari es tanpa tahu apa yang ingin dicari, atau tiba-tiba sudah menatap layar ponsel tanpa tujuan yang jelas. Yang paling menyakitkan adalah ketika anak saya sedang bersemangat bercerita tentang harinya, sementara tangan saya secara refleks merogoh saku untuk mengecek notifikasi yang sebenarnya tidak terlalu mendesak. Saya melihat tatapan kosong anak saya yang menyadari bahwa ayahnya sedang “tidak di rumah”, meski duduk tepat di depannya. Rasanya perih, tapi anehnya, saya sering gagal berhenti.

Interupsi di Tengah Kekacauan

Saya mencoba meniru teknik masinis di Jepang: menunjuk sinyal dan meneriakkan statusnya agar tetap sadar. Di rumah, saya mulai mencatat apa yang saya lakukan setiap jam lewat sebuah buku catatan kecil. Langkah sederhana ini menjadi rem darurat saat saya menyadari bahwa saya sedang menjalani hidup autopilot yang melelahkan.

Melihat kebiasaan buruk tertulis hitam di atas putih rasanya seperti menyalakan lampu di ruangan yang selama ini gelap gulita. Masalahnya, kesadaran itu sering kali kalah telak oleh rasa lelah. Ada hari-hari di mana saya menatap buku catatan itu, sadar sepenuhnya bahwa saya sedang membuang waktu di media sosial, namun jari saya tetap menolak untuk berhenti scrolling. Ternyata, sekadar “sadar” tidak otomatis membuat saya jadi pahlawan bagi diri sendiri; sering kali ia hanya membuat saya menjadi penonton yang merasa bersalah atas kegagalannya sendiri. Kesadaran ternyata bukan tombol off, ia hanyalah saksi bisu betapa seringnya saya memilih untuk kalah.

Meja Makan yang Mengkhianati

Saya perlu jujur bahwa motivasi saya adalah barang mewah yang jarang saya miliki setelah jam dua siang, saat anak-anak mulai rewel dan cadangan kesabaran saya habis bersama sisa tenaga untuk mengurus rumah.

Saya mencoba memindahkan buku jurnal ke meja makan—titik yang pasti saya datangi setiap pagi. Namun, meja makan bukan laboratorium yang steril. Ada minggu-minggu di mana ia berubah menjadi medan perang; penuh sisa makanan, PR anak yang berceceran, dan tumpahan sirup yang membuat jurnal saya lengket. Di saat seperti itu, saya hanya menatap buku yang lengket itu, merasa lelah, dan akhirnya memilih untuk membiarkannya terkubur di bawah tumpukan piring kotor. Sistem saya ternyata tidak lebih kuat dari sebotol sirup yang tumpah.

Kotak Waktu yang Bocor

Di tengah tugas domestik yang seolah tidak ada habisnya, saya menetapkan alarm. Jika ia berbunyi, saya harus meletakkan sapu dan mulai menulis. Namun, rencana ini sering kali hancur saat berhadapan dengan realita. Ada hari-hari “gagal total” di mana tidak ada satu pun alarm yang saya gubris karena cucian yang bau apek lebih menuntut perhatian daripada ambisi saya.

Saya mencoba menyisipkan waktu jeda: menyeduh teh hangat dan duduk diam sebentar sebelum mulai bekerja. Terkadang jeda ini hancur karena anak bungsu saya minta bantuan ke toilet tepat saat teh baru diseduh. Teh itu mendingin, dan kepala saya kembali bising oleh daftar belanjaan yang belum terbeli.

Wajah Mungil yang Menanti

Sampai saat ini, saya masih sering menemukan diri saya kembali menjadi “bayang-bayang” di depan lemari es. Perjuangan melawan hidup autopilot ini bukan tentang garis finish di mana saya akhirnya menjadi ayah yang sempurna dan selalu hadir.

Mungkin tujuan sebenarnya bukanlah memenangkan pertempuran setiap hari, melainkan hanya untuk tidak membiarkan hidup autopilot menang saat semua sistem saya gagal. Sore ini, saat anak saya mulai bercerita, saya mungkin masih akan merasakan dorongan untuk merogoh ponsel di saku. Dan mungkin saya akan gagal lagi. Tapi setidaknya sekarang, saya tahu persis di mana pertempuran itu sedang terjadi. Tangan saya mungkin masih gemetar menahan godaan layar, tapi mata saya berusaha keras untuk tetap pada wajah mungil di depan saya. Itu saja cukup untuk hari ini.


Navigasi Seri: Belajar dari Atomic Habits


Jika kegelisahan tentang hidup autopilot ini juga sedang Anda rasakan, saya sangat menyarankan untuk menyelami pemikiran James Clear dalam Atomic Habits secara utuh.

Untuk yang lebih nyaman membaca terjemahan:
Lihat di Gramedia

Untuk versi bahasa Inggris:
Lihat di Gramedia Buku Impor



Scroll to Top