
Selamat datang di Ruang Baca Menulis Kembali. Tempat sederhana untuk kita yang sedang mencoba mencari jeda di tengah padatnya kegiatan. Tempat di mana kita bersama merawat sikap tenang dan perlahan berdamai dengan kenyataan.
“Mulai dari nol lagi, ya…”
Kalimat itu jelas terdengar sederhana. Tapi bagi James Clear—dan mungkin juga bagi kita—itu adalah kalimat yang terasa sangat menyakitkan. Pada titik nol, kata semangat itu seringkali terasa seperti makanan yang sudah basi.
Anda sedang menyimak serial “Saya Belajar Dari”. Ini adalah bagian pertama dari tujuh tulisan yang lahir saat saya menuliskan kembali pengalaman ketika saya membaca kembali buku Atomic Habits karya James Clear.
Luka yang Mengubah Cara Pandang
Bayangkan saja, wajah James Clear hancur dalam satu ayunan tongkat baseball yang lepas dari tangan temannya. Tengkoraknya retak. Dan dua rongga matanya pecah. Saat itu, James Clear jauh dari memikirkan kesuksesan di masa depan. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana dia bisa bertahan menjalani hidupnya.
Saya membaca kisah James Clear dalam Atomic Habits bukan sebagai buku penggerak yang penuh dengan semangat. Saya membacanya sebagai catatan seorang teman… Teman yang pernah babak belur dalam hidupnya.
Ada kejujuran yang perih saat ia berucap tentang matanya yang menonjol ke depan—iya, matanya James menonjol hanya karena ia sedang mencoba membuang ingus. Jelas itu bukan sekadar sakit fisik. Itu adalah momen di mana semua terasa asing. Saat semua kuasa atas tubuh seperti lepas, dan semua harapan masa depan ikut kandas.
Kita semua punya momen “kecelakaan” kita masing-masing. Mungkin bukan karena tongkat baseball, bisa jadi itu datang dalam bentuk surat PHK, atau datang saat batin terasa penat yang membuat kita setiap pagi terasa berat, hingga akhirnya… lengket di tempat tidur.
Sebab itu, bagi saya, proses bangkitnya James Clear di sini terasa sangat personal. Karena ketika benak dan batin menuntut kita untuk tancap gas, tubuh kita justru sedang meminta waktu untuk sekadar bisa berpijak tegas.
Ketika Dunia Tidak Menyambut dengan Gempita
Di masa seperti sekarang yang berjalan serba cepat, diam di tempat seringkali terasa seperti dosa yang besar. Dan jujur saja… itu bikin sesak. Ada rasa malu yang terselip saat kita melihat orang lain di luar sana sedang melesat ke arah masa depannya, sementara kita masih berkutat di situ saja; terasa berat untuk menetapkan ke mana arah langkah selanjutnya. Kita merasa menjadi beban bagi mereka yang ada di dekat kita.
James Clear pun merasakan hal serupa. Setelah setahun menata masa pemulihan, dunia tidak menyambut kedatangannya dengan gempita. Dengan kemampuannya yang tersisa saat itu, James mesti memulai dari awal. Meniti lagi dari bawah. Bahkan untuk sekadar masuk sebagai cadangan di tim Junior sekalipun terasa jauh dari pandangan mata.
Keadaan ini menekan batin James Clear. Sering dia mendapati dirinya berada dalam mobilnya, sendirian, dan menangis. Dia menelan rasa malu itu setiap hari. Namun setiap hari pula dia bertahan, karena itu adalah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk menjaga mimpinya tentang masa depan.
Perasaan yang James alami di dalam mobil itu ternyata tidak berbeda jauh dengan apa yang sering saya rasakan di rumah ini.
Kendali Dalam Jangkauan
Kemudian, apa yang dia lakukan? James Clear sadar, dia tidak bisa langsung mengubah dunia. Sebab itu, dia pun mulai beralih ke satu-satunya wilayah yang masih bisa dia jangkau kendalinya; dan itu adalah ruang kecil yang berada di sekitarnya.
Dia mulai menata kamar tidurnya setiap pagi. Mungkin kedengarannya konyol dan sepele, kan? Iya, mungkin memang begitu. Tapi bagi kita yang hidupnya sedang hancur, mendapati tempat tidur dipasang kain dengan rapi adalah bukti bahwa kita masih punya kendali.
Sama seperti hari kemarin, saat saya berdiri di depan tumpukan baju kering yang belum dilipat. Sebagai seorang ayah yang sudah menjaga pekerjaan domestik di rumah ini, tumpukan itu kadang terasa seperti gunung yang mengejek kegagalan saya.
Tapi saya ingat James Clear. Saya ingat bahwa dia memilih untuk tidak langsung melawan semuanya. Dia memutuskan untuk pulang ke ruang kecilnya dan mulai menata apa yang sanggup dia sentuh.
Dan saya mencoba mencontohnya. Saya mencoba untuk tidak memaksa diri menyelesaikan semuanya sekaligus. Tidak… sore itu saya tidak melipat baju. Sore itu saya memilih untuk berhenti sejenak dari tumpukan baju yang membuat sesak. Saya memilih untuk berjalan ke arah kamar dan mulai mengambil sudut kain pada kasur. Menatanya perlahan, sambil memastikan setiap ujungnya terpasang kencang… dan berhenti.
Sistem Adalah Jalan Pulang
Menemukan kembali kemampuan itu yang telah lama tidak dirasakan—meski hanya lewat menata kain di kasur—adalah kemenangan kecil yang sangat berarti bagi ketenangan batin saya. Dari gerakan tangan menata kain itulah, pemahaman saya tentang buku ini mulai berubah.
Belajar dari Atomic Habits bagi saya bukanlah tentang memiliki disiplin baja. Melainkan tentang kesediaan untuk menata kembali sistem meskipun itu dari nol. Iya… meskipun itu juga adalah untuk yang kesekian ratus kalinya.
Karena sistem bukan dibuat agar kita tidak pernah jatuh. Sistem ada agar saat kita jatuh, kita tahu ke mana harus pulang. Sistem ada agar saat kita jatuh, kita tahu dari mana kita mesti melanjutkan lagi. Sistem adalah jalan pulang, saat arah langkah kita mulai terasa hilang.
Dengan cara pandang ini, saya menyadari bahwa tumpukan pakaian atau naskah blog yang macet bukanlah tanda untuk menyerah. Membangun rutinitas ini memang sepi, dan seringkali membosankan. Tidak ada tepuk tangan, atau bahkan ada yang menyaksikan.
Hari ini kita bisa melakukan sedikit lebih rapi. Besok mungkin kacau lagi. Ya sudah. Tidak mengapa. Ini sudah lebih cukup.
Jika Anda ingin menyimak tulisan berikutnya, silakan berlangganan surat untuk menerima surat kelanjutannya secara berkala di Ruang Baca Menulis Kembali.
Terima kasih, ya, sudah mau menemani saya belajar hari ini.
Sampai jumpa di bagian selanjutnya.
Daftar Serial “Saya Belajar Dari”: Atomic Habits
- Bagian 1: Belajar dari Titik Nol (Sedang Dibaca)
- Bagian 2: Lampu Hazard di Pinggir Jalan Tol
- Bagian 3: Berhenti Menatap Layar, Mulai Menatap Anak
- Bagian 4: Menulis Ibarat Menempati Rumah Baru: Butuh Waktu untuk Betah
- Bagian 5: Berdamai dengan Urusan Rumah: Mengapa Kita Perlu Membuatnya Mudah
- Bagian 6: Mengelola Rutinitas Rumah Tangga: Siasat Bertahan dan Mulai Lagi
- Bagian 7: Kemudi Rumah Tangga: Merawat Identitas di antara Jenuh
Referensi
Tulisan ini banyak dipengaruhi dari buku Atomic Habits karya James Clear.
Jika Anda tertarik untuk membacanya lebih lanjut, silakan temukan di sini.
Lihat di Gramedia
Untuk versi bahasa Inggris:
Lihat di Gramedia Buku Impor
Catatan: Link di atas adalah link affiliate. Jika Anda membeli melalui link tersebut, saya akan mendapatkan sedikit komisi tanpa biaya tambahan bagi Anda. Terima kasih telah mendukung keberlanjutan proyek Menulis Kembali.
Dukung Serial Saya Belajar Dari
Jika catatan ini memberikan manfaat bagi Anda, pertimbangkan untuk memberikan apresiasi melalui Trakteer:
- [Nasi Pecel] — Apresiasi sederhana untuk keberlanjutan ruang baca ini.
- [Beli Audio] (Segera Hadir) — Nantikan versi voice over dari tulisan ini yang bisa Anda simpan dan simak kapan saja.
Terima kasih atas setiap dukungan yang Anda berikan.