
Selamat datang di Ruang Baca Menulis Kembali.
Tempat sederhana untuk kita yang sedang mencoba mencari jeda di tengah padatnya kegiatan.
Tempat di mana kita duduk bersama, merawat sikap tenang, dan perlahan… berdamai dengan kenyataan.
Bayangkan kamu sedang menyetir di jalan yang lurus dan panjang. Kamu membiarkan setirmu miring sebentar saja… dalam hitungan detik, kamu mungkin masih merasa aman. Tapi jika kamu terlena… tidak sampai satu menit, mobilmu sudah masuk ke dalam parit.
Anda sedang mendengarkan serial “Saya Belajar Dari”.
Ini adalah bagian kedua dari tujuh tulisan yang lahir saat saya menuliskan kembali pengalaman
ketika membaca buku Atomic Habits karya James Clear.
Ban yang Kurang Angin adalah Tanda
Masuk ke dalam parit sering kali bukan karena kita sengaja membanting setir mobilnya… melainkan karena akumulasi dari rentetan kompromi kecil yang kita izinkan terjadi sebelumnya.
Seperti saat di rumah, sepuluh menit ekstra untuk scrolling media sosial kadang terasa tidak berbahaya. Satu piring kotor yang dibiarkan tergeletak begitu saja di bak cuci… tidak akan langsung meruntuhkan rumah tangga.
Tapi pelan-pelan… kompromi kecil ini seperti memaksakan berkendara jauh dengan ban yang kurang angin, namun kita terus menunda untuk mengisinya kembali. Awalnya terasa sepele. Di fase ini, ban masih punya tekanan yang cukup, jadi kita memilih untuk terus lanjut jalan. Entah mungkin karena rasa percaya diri bahwa perjalanan akan lancar sampai tujuan… atau karena menganggap ada hal yang lebih penting untuk didahulukan.
Padahal… pelan-pelan struktur ban pun berubah. Dinding bagian dalam menerima tekanan yang lebih berat, serat-seratnya mulai ada yang putus, dan suhu di dalamnya juga jadi lebih tinggi dari biasanya. Ketika kita memaksa terus berkendara tanpa bantalan yang semestinya… benturan antara roda dengan jalan langsung menghantam suspensi dan sistem kemudi.
Urutannya sederhana: dimulai dari ban yang kurang angin… kita merasa ada yang aneh tapi lanjut berkendara… mulai ada kerusakan di dalam tapi dari luar tampak biasa… dan akhirnya merembet ke mana-mana.
Menepi di Bahu Jalan
Lumpuh di bahu jalan… persis seperti di rumah, saat menatap statistik blog yang tetap nol, atau saat tumpukan piring yang semakin tinggi… dan kita hanya bisa menatapnya.
Dalam kondisi seperti ini, konsistensi bukan lagi soal seberapa dalam kita menginjak pedal gas, melainkan keberanian untuk berhenti sejenak agar kerusakan yang terjadi itu masih terjangkau untuk bisa kita perbaiki.
Karena dengan begitu, kita jadi punya waktu untuk bertanya. Menanyakan kembali pada diri sendiri. Tentang penyebab kerusakan ini. Tentang kendaraannya. Tentang perjalanan ini. Apa tujuan kita, ke mana arahnya, dan kenapa kita perlu ke sana.
Adalah wajar jika kita terdiam. Pikiran kita mengembara… bertemu penyesalan… dihentikan kebingungan. Sebelum akhirnya, kita ditepuk oleh teriknya matahari. Panas menyengat kulit. Waktu tidak ikut berhenti bersama kita. Waktu terus berjalan. Dan kita perlu menentukan langkah selanjutnya.
Mengakui Kecerobohan
Perjalanan kita masih panjang. Kendaraan ini perlu diperbaiki sebelum bisa digunakan kembali. Kita perlu bersikap jujur saat mencari akar penyebab kerusakannya, dan lapang dada untuk mengakui… bahwa kecerobohan dalam merawat mobil dengan baik adalah akar masalahnya.
Pada titik inilah, kita bisa menyadari: Bahwa hidup pun bekerja dengan cara yang serupa. Kita menjalani kehidupan ini dengan menggunakan identitas sebagai kendaraannya.
Sering kali, kita hanya ingin kendaraan ini melesat ke depan tanpa hambatan, memimpikan tujuan yang indah, namun merawat mesin dengan ala kadarnya.
Merawat adalah Bukti
Identitas juga begitu. Identitas kita bukan dibentuk oleh apa yang kita mimpikan, tapi oleh apa yang kita lakukan pada hari kemarin, hari ini, dan hari yang akan datang.
Menyiapkan sarapan sambil melawan kantuk… adalah cara kita mengisi bahan bakar untuk identitas sebagai ayah di rumah. Membuka laptop saat otak terasa membeku… adalah upaya kita untuk menjaga agar mesin kreativitas yang menggerakkan identitas kita sebagai penulis tetap terawat.
Sebab kendaraan yang mesinnya dirawat dengan baik… akan siap melaju, kapan pun kita membutuhkannya.
Lampu Hazard: Tanda Bahwa Kita Masih Ada
Dan jika satu waktu nanti, kerusakan memaksa mobil untuk menepi di bahu jalan… hal wajar yang bisa kita lakukan adalah berdiri di sampingnya, menjaga agar mobil itu tetap dekat dalam jangkauan mata dan tangan kita.
Kita menepi agar tetap aman, dan kita tetap perlu memastikan agar mobil ini juga tetap aman. Kita memberinya tanda, sehingga tidak dianggap hilang atau diabaikan. Sama seperti kita tidak boleh mengabaikan diri sendiri.
Jangkauan kendali kita sering kali memang sempit. Sering kali memang terbatas… Namun, meski sebatas menghidupkan lampu hazard, membiarkannya tetap berkedip dengan pelan… rasanya cukup untuk memberi tanda pada dunia bahwa kita masih ada. Masih bertahan… dan masih mencari cara untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Mungkin cara mengatasi rasa gagal yang paling nyata… adalah dengan berani bangun besok pagi untuk kembali menghidupkan mesinnya. Mesin… yang menggerakkan identitas kita… meski kita tahu… bahwa kita mungkin… bisa saja akan gagal lagi.
Dan itu menjadi kenyataan yang akan kita bawa tidur malam ini.
Jika Anda ingin menyimak tulisan berikutnya, silakan berlangganan surat untuk menerima surat kelanjutannya secara berkala di Ruang Baca Menulis Kembali.
Terima kasih, ya, sudah mau menemani saya belajar hari ini.
Sampai jumpa di bagian selanjutnya.
Daftar Serial
“Saya Belajar Dari”: Atomic Habits
- Bagian 1: Dipaksa Berdamai oleh Kenyataan
- Bagian 2: Lampu Hazard di Pinggir Jalan Tol (Sedang Dibaca)
- Bagian 3: Berhenti Menatap Layar, Mulai Menatap Anak
- Bagian 4: Menulis Ibarat Menempati Rumah Baru: Butuh Waktu untuk Betah
- Bagian 5: Berdamai dengan Urusan Rumah: Mengapa Kita Perlu Membuatnya Mudah
- Bagian 6: Mengelola Rutinitas Rumah Tangga: Siasat Bertahan dan Mulai Lagi
- Bagian 7: Kemudi Rumah Tangga: Merawat Identitas di antara Jenuh
Referensi
Tulisan ini banyak dipengaruhi dari buku Atomic Habits karya James Clear.
Jika Anda tertarik untuk membacanya lebih lanjut, silakan temukan di sini.
Lihat di Gramedia
Untuk versi bahasa Inggris:
Lihat di Gramedia Buku Impor
Catatan: Link di atas adalah link affiliate. Jika Anda membeli melalui link tersebut, saya akan mendapatkan sedikit komisi tanpa biaya tambahan bagi Anda. Terima kasih telah mendukung keberlanjutan proyek Menulis Kembali.
Dukung Serial Saya Belajar Dari
Jika catatan ini memberikan manfaat bagi Anda, pertimbangkan untuk memberikan apresiasi melalui Trakteer:
- [Nasi Pecel] — Apresiasi sederhana untuk keberlanjutan ruang baca ini.
- [Beli Audio] (Segera Hadir) — Nantikan versi voice over dari tulisan ini yang bisa Anda simpan dan simak kapan saja.
Terima kasih atas setiap dukungan yang Anda berikan.
Tulisan ini juga tersedia di: Medium | Substack